DEMI INI, PRIA INI BERHENTI DARI PEKERJAANNYA YANG DIGAJI SETINGGI LANGIT!

12 Juni 2019 | Live Watch Store | Success Stories

​​

Adam Braun memiliki semua yang dia butuhkan: pekerjaan di Wall Street, apartemen, jalan-jalan berkeliling dunia. Tetapi setiap orang memiliki jalan mereka sendiri menuju kebahagiaan. Kehidupan yang glamor itu ditinggalkan Adam setelah bertemu dengan seorang anak miskin di India yang hanya bermimpi memiliki sebuah pensil.

Men’s Republic berhasil menemukan sebuah kisah yang menarik dari seorang pria yang berhenti dari pekerjaan prestisiusnya untuk menjalankan sebuah perusahaan amal dan menulis sebuah buku tentang perjalanannya, berjudul ‘The Promise of a Pencil’.

PRIA INI BERNAMA ADAM BRAUN

Lemari pakaiannya penuh dengan setelan dan jas mahal dan di kartu namanya terdapat sebuah nama perusahaan yang dihormati dan dikagumi banyak orang. Adam lulus dari Ivy League University, dan bekerja di Hedge Fund, berharap dapat membangun karirnya di Bain & Company.

Bahkan dengan semua ini, di kedalaman jiwanya, kehidupan yang sangat diinginkan Adam telah berhenti memuaskannya. Dia menyadari bahwa dia harus keluar dan menemukan kebahagiaannya. Hmmm… pasti berat rasanya keluar dari zona nyaman bukan?

KELUAR DARI ZONA NYAMAN

Hal pertama yang dia lakukan adalah meninggalkan zona nyamannya. Adam melakukan perjalanan ke India, Afrika, dan Vietnam. Tiba-tiba, di India, hidupnya mulai berubah setelah bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang mengemis. Anak kecil tersebut mengemis dan meminta ke Adam sebuah pensil, satu-satunya keinginan anak kecil tersebut adalah dibeliin sebuah pensil untuk belajar dan bersekolah seperti anak-anak kecil lainnya. Adam Braun kaget bahwa anak ini belum pernah sekolah. Dan kemudian dia menyadari bahwa masih banyak anak-anak di penjuru dunia yang berada di situasi yang sama.

KEMBALI KE AS DAN MENDIRIKAN PERUSAHAAN AMAL

Adam kembali ke AS dan mendirikan perusahaan amalnya ‘Pencils of Promise’. Dia juga ingin membangun sekolah pertamanya di Phatheng, Afrika Selatan. Untuk sepenuhnya fokus mengembangkan organisasinya tersebut, Adam memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya yang bergaji tinggi. Pilihan ini tidak mudah baginya, dia mempelajari prosesnya, bertemu dengan orang-orang yang berpengalaman dan belajar darinya. Sekolah di Phatheng telah dibuka, dan 300 sekolah lainnya menyusul hingga seluruh dunia.

Dalam bukunya, Adam, tanpa embel-embel, berbicara tentang semua kerumitan, keraguan, dan kesalahan yang dia hadapi. Dia menjelaskan secara rinci seluruh siklus hidup organisasinya, dari rekening bank $25 untuk pembangunan sekolah pertama hingga menciptakan tim internasional yang besar. Hari ini, Adam adalah kepala perusahaan amal ‘Pencils of Promise’. Mereka telah membangun lebih dari 300 sekolah di seluruh dunia. Dan selama beberapa tahun terakhir, dia telah meraih beberapa penghargaan bergengsi seperti “50 People Who Changed The World,” dari majalah Wired dan “The Forbes 30 Under 30 List”. Dia bahkan berbicara di PBB, White House, dan the World Economic Forum.